| Home | Indonesian Papist | Renungan Pagi| Doa Umat Misa Harian | Privacy Policy | Support Lumen Christi |



Facebook  X  Whatsapp  Instagram 

Oktober 27, 2026

Rabu, 28 Oktober 2026 Pesta Santo Simon dan Yudas, Rasul


Bacaan I: Ef 2:19-22 "Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah."

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-3.4-5; Ul: lh.5a "Di seluruh dunia bergemalah suara mereka."

Bait Pengantar Injil: Mat 5:16 "Allah, Tuhan kami, Engkau kami puji dan kami muliakan. Kepada-Mu paduan para rasul bersyukur, ya Tuhan."

Bacaan Injil: Luk 6:12-19 "Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka."
 
warna liturgi merah
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini  
Public Domain

Tidak banyak yang diketahui tentang dua orang kudus yang pestanya kita rayakan hari ini. Simon disebut sebagai "orang Zelot", kemungkinan karena semangatnya yang berkobar bagi kemerdekaan Yahudi sebelum ia dipanggil oleh Yesus. Yudas atau Tadeus adalah penulis salah satu surat dalam Perjanjian Baru, di mana ia memperingatkan umat Kristen perdana agar waspada terhadap ajaran sesat dan imoralitas. Ia juga dihormati sebagai santo pelindung untuk "perkara-perkara yang mustahil". Menurut sumber-sumber tradisional, keduanya berkarya bersama dalam misi di Persia dan akhirnya wafat sebagai martir.

Kisah keduanya juga memberi kita gambaran tentang orang-orang yang dipilih Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya. Baik mereka berdua maupun para rasul lainnya adalah orang-orang biasa yang berasal dari latar belakang yang tidak menonjol. Namun, mereka masing-masing memiliki tujuan dalam rencana keselamatan Allah. Keduanya menjadi pribadi yang penuh semangat bagi Kristus dan Kerajaan Allah; mereka juga menjadi saluran rahmat Allah bagi mereka yang mencari kasih dan pengampunan-Nya, atau bagi mereka yang memohon pertolongan Allah saat menghadapi masalah hidup yang tampak tanpa harapan, bahkan mustahil untuk diatasi. Mungkin kita merasa diri kita tidak berarti, sehingga kita berpikir bahwa kita tidak memiliki peran apa pun dalam rencana keselamatan Allah. Namun, marilah kita memohon doa dari Santo Simon dan Santo Yudas agar kita dapat menemukan tujuan hidup kita, serta peran kita dalam rencana keselamatan Allah. Meskipun kita mungkin merasa tidak berarti, bukan berarti hidup kita adalah sesuatu yang mustahil. Sebab bersama Allah, segala sesuatu dan setiap orang menjadi mungkin. 

Jadilah Pelita Kasih Bersama Kami

Terima kasih sudah menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kebaikan Tuhan bersama lumenchristi.id. Apabila sapaan Sabda Tuhan hari ini memberkati dan meneguhkan hati Anda, kami mengundang Anda untuk ikut serta mendukung pelayanan ini.

Setiap persembahan kasih yang Anda salurkan melalui QRIS akan menjadi pelita yang mencerahkan langkah kami untuk menjangkau lebih banyak jiwa, mendekatkan mereka pada Kristus dan Gereja-Nya.

Doa kami senantiasa menyertai Anda dan keluarga. Tuhan Yesus memberkati.






 


Oktober 26, 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXX


Bacaan I: Ef 5:21-33 "Rahasia ini sungguh besar! Yang kumaksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat."

Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-2.3.4-5; R:1 "Berbahagialah orang yang takut akan Tuhan."

Bait Pengantar Injil: Mat 11:25 "Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri Kerajaan Kaunyatakan kepada orang sederhana."

Bacaan Injil: Luk 13:18-21 "Biji itu tumbuh dan menjadi pohon."
 
warna liturgi hijau
 
Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini 
 
Bernhard Plockhorst | Public Domain
    Tekad, kekuatan kehendak, dan komitmen manusia tentu merupakan hal yang mulia dan inspiratif. Namun, kita juga tahu bahwa manusia itu lemah dan rentan terhadap kegagalan. Berdasarkan pengalaman pribadi, kita pun menyadari bahwa kita sendiri pernah gagal dalam menjaga tekad, kekuatan kehendak, dan komitmen kita.

Dalam bacaan pertama Rasul Paulus merenungkan tentang komitmen pernikahan antara suami dan istri. Meskipun tekad dan komitmen sangat diperlukan agar pernikahan tetap kuat, Santo Paulus juga menghadirkan faktor lain. Ia menyertakan faktor Allah dalam pernikahan. Ketika pasangan suami-istri memahami pentingnya kehadiran Kristus dalam pernikahan mereka, maka pernikahan tersebut akan diberkati dengan kasih Allah. Kasih Allah inilah yang akan menguatkan tekad dan komitmen manusia, sekaligus menuntun pasangan suami-istri—dan umat manusia pada umumnya—untuk memahami kehendak serta rencana Allah.

Perumpamaan-perumpamaan dalam Injil menunjukkan kuasa Allah dalam menumbuhkan alam semesta. Kasih Allah pula yang memampukan alam untuk menghasilkan buah demi kemuliaan-Nya dan demi kebaikan umat manusia. Kuasa dan kasih Allah inilah yang akan memampukan kita untuk mewujudkan tekad, kekuatan kehendak, dan komitmen kita dalam memenuhi kehendak serta rencana-Nya.

Oktober 25, 2026

Senin, 26 Oktober 2026 Hari Biasa Pekan XXX

 

Bacaan I: Ef 4:32-5:8 "Hiduplah dalam cinta kasih seperti Kristus."

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-2.3.4.6; R: 40:5a "Jadilah penurut Allah sebagai anak-anak kesayangan."

Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b.a "Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran; kuduskanlah kami dalam kebenaran."

Bacaan Injil: Luk 13:10-17 "Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari Sabat?"

   warna liturgi hijau

Bacaan Kitab Suci dapat dibaca pada Alkitab atau klik tautan ini
Credit:TPopova/istock.com

Melalui sabda Tuhan hari ini, kita dipanggil untuk hidup kudus dan meninggalkan cara hidup lama yang sarat akan keburukan duniawi. Sebagai anak-anak Allah, kita diingatkan melalui pesan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus agar senantiasa setia menempuh jalan kebajikan yang telah ditetapkan-Nya, serta tidak membiarkan diri kita terbuai oleh godaan kemuliaan fana. Kita menyadari bahwa kita tidak mungkin bisa mengabdi kepada Allah sekaligus menjadi hamba bagi dunia, sehingga diperlukan ketegasan dan ketulusan hati untuk terus menghadirkan kemuliaan Tuhan dalam setiap perkataan dan perbuatan kita.

Panggilan hidup kudus tersebut diwujudkan secara nyata melalui teladan Yesus dalam bacaan Injil, saat Ia menyembuhkan seorang wanita lumpuh pada hari Sabat. Peristiwa ini membuka mata kita terhadap hakikat sejati dari iman; bahwa Allah lebih menghendaki kasih, belas kasih, dan pengampunan daripada ketaatan buta pada aturan yang justru melahirkan kesombongan rohani. Berbeda dengan para pemimpin rumah ibadat yang merasa paling benar sendiri dan mengabaikan penderitaan sesama demi adat istiadat, Yesus menunjukkan bahwa tindakan nyata untuk menolong dan mengasihi orang yang menderita adalah manifestasi tertinggi dari hukum Allah.

Oleh karena itu, Sabda Tuhan pada hari ini mengajak kita untuk membuang jauh-jauh ego, rasa lebih unggul dari orang lain, serta prasangka buruk yang dapat membutakan hati nurani. Karena Allah pada hakikatnya adalah kasih, sudah sepantasnya kita menjadikan cinta kasih-Nya yang tak bersyarat sebagai landasan dalam bersikap kepada semua orang di sekitar kita. Dengan senantiasa memancarkan kebaikan dan kemurahan hati, semoga hidup kita dapat menjadi teladan yang menginspirasi dan mendekatkan sesama kepada Tuhan, sekaligus menjadikan kita sebagai bagian dari Tubuh Kristus yang sungguh tulus dalam menghidupi Sabda-Nya.

lumenchristi.id 2026 - Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda. Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.